Program BEASISWA, GOLDEN TICKET, dan Promo Terbaru, get the information now!


logo-asia-institut
Registration

Dahlan Iskan di Institut Asia Malang: Membaca Zaman, Menyikapi Algoritma, dan Tantangan Meritokrasi Tiongkok

March 13, 2026 
 

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Kuliah tamu yang merupakan agenda tahunan Institut Asia Malang pada Kamis (12/3/2026) terasa spesial dengan kehadiran narasumber Dahlan Iskan. Tokoh pers nasional sekaligus mantan Menteri BUMN, dan founder Disway ini menyampaikan materi "Membaca Zaman dan Berpikir Merdeka di Era Media Sosial". Acara dipandu tuan rumah yang juga Rektor Institut Asia Risa Santoso BA MEd, pemegang rekor MURI sebagai rektor termuda di Indonesia.


Kuluah tamu "Membaca Zaman dan Berpikir Merdeka di Era Media Sosial" bersama Dahlan Iskan dengan host Risa Santoso di Institut Asia Malang--tim diswaymalang.id

Di hadapan 200 peserta yang hadir secara hybrid, kuliah tamu hasil kerja sama  dengan Disway Malang dan Harian Disway ini juga mengupas isi buku terbaru Dahlan Iskan, Teladan dari Tiongkok. Buku tersebut lahir dari keinginan sebuah lembaga yang bermitra dengan Tiongkok agar pemikiran Dahlan selama delapan tahun terakhir dapat terdokumentasi dan dipelajari oleh khalayak luas.

Meritokrasi vs Demokrasi: Dilema Indonesia

Salah satu poin paling tajam yang disampaikan Dahlan adalah mengenai sistem meritokrasi Tiongkok. Di sana, siapa pun yang berprestasi berhak naik pangkat. Termasuk di jalur pemerintahan, mulai pemda hingga pusat. Tanpa memandang relasi keluarga, pertemanan, atau balas budi partai. Namun, Dahlan pesimistis hal ini bisa ditiru Indonesia.

"Apakah kita bisa belajar dari situ? Tidak, karena kita negara demokrasi. Pilarnya adalah partai. Semua ditentukan oleh partai. Sementara partai sebagai piliar tidak menjalankan meritokrasi. Jadi, sebenarnya buku ini bisa dianggap sia-sia karena sistem kita tidak memungkinkan untuk belajar dari mereka," ungkap Dahlan blak-blakan.

Dahlan kemudian membandingkan partai di Indonesia dengan di Tiongkok. Sistem kaderisasi partai di Tiongkok juga menggunakan meritokrasi. Untuk menjadi anggota partai harus melalui tes yang sangat ketat untuk memastikan kandidat tersebut membawa kebaikan.

Ia kemudian sempat menyentil partai di dalam negeri, "Di sana prosesnya panjang, dari daftar sampai jadi anggota. Setelah jadi anggota, untuk menjadi pengurus juga seleksi ketat. Di sini, partai malah menawar-nawari orang menjadi anggota dengan gampang. Bahkan, orang tidak pernah menjadi anggota partai, tiba-tiba bisa langsung jadi ketua umum," ujarnya.

Baca juga:  Ngabuburit the Series - "NGONTEN SEMUDAH CERITA"


Membuka Tabu Komunisme dan Halal

Dahlan juga mengatakan, Tiongkok dengan sistem meritokrasinya, berkembang dengan sangat cepat menjadi negara maju. Banyak orang di Indonesia berpikir negatif tentang Tiongkok, misalnya komunis dan diktator. Namun, apa pun yang dipikirkan orang tentang Tiongkok, negeri Tirai Bambu itu akan menjadi raksasa dunia.

"Orang mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, saya katakan Tiongkok tetap akan menjadi raksasa dunia," kata Dahlan.

Karena itu, Dahlan yang juga pimpinan pondok pesantren ingin mengirim pemuda-pemuda Islam untuk belajar ke Tiongkok. Selama delapan tahun sebuah yayasan yang dia dirikan memberangkatkan 300 mahasiswa per tahun untuk kuliah di Tiongkok.

Langkah ini sering terganjal ketakutan orang tua akan isu komunisme dan makanan haram. Mereka takut anaknya jadi komunis dan makan babi.

"Pertanyaan orang tua selalu: 'nanti anak saya jadi komunis?' Padahal jumlah orang komunis di sana hanya 5 persen dan tidak akan bertambah, itu sudah regulasi di sana. Soal makan babi? Saya jamin di universitas ada kantin halal. Bahkan saat saya mengantar kolega dari Mojokerto operasi ganti hati di sana, ada lima restoran halal di sekitar rumah sakit. Sekarang zaman baru, di sana franchise makanan halal punya 100 ribu cabang, tersebar di berbagai kota bahkan daerah terpencil," jelasnya.

Rektor Institut Asia Risa Santoso yang lulusan S2 (Master of Arts) Harvard University, Amerika Serikat, menambahkan, betapa kemajuan teknologi di Tiongkok sudah sangat jauh. "Teman saya ketika ke sana bercerita, saat di atas Great Wall (Tembok Besar China), pesan makanan, kurir yang mengantar adalah drone. Mahasiswa harus tahu bagaimana cara keep up dengan ini," ujar Risa.

Revolusi Mental Dosen Era Medsos

Dahlan juga memberikan masukan tajam bagi dunia pendidikan. Menurutnya, dosen yang merasa paling pintar adalah ancaman bagi kemajuan. Di era media sosial, mahasiswa bisa menemukan guru terbaik dunia hanya dari ponsel mereka.

"Dosen yang menganggap mahasiswa tidak lebih pintar dari dirinya, saya bilang sangat celaka itu. Mahasiswa hanya sering takut terlihat menggurui dosennya. Dosen tidak harus lebih pintar, tapi dosen harus tahu bagaimana mengarahkan. Tugas dosen itu membuat mahasiswa bertanya, bukan sekadar memberi ilmu. Karena kunci ilmu adalah pertanyaan; kalau tidak bertanya, tidak akan dapat ilmu," tegas Dahlan.

Baca juga:  Rektor Muda Risa Santoso: Pendidikan Adalah Kunci Masa Depan Perempuan

Dahlan juga bercerita bahwa dirinya lebih suka mencari dokter muda jika sakit, daripada yang tua. Karena dokter senior selain merasa hebat juga malas mengikuti perkembangan medis melalui media untuk memantau perkembangan kasus-kasus penyakit terbaru.

Ekonomi: Antara Angka dan Realita Ibu-Ibu


Menjawab host Risa Santoso soal kondisi ekonomi dalam negeri, Dahlan menyoroti stagnansi pendapatan per kapita Indonesia yang dalam 10-12 tahun terakhir hanya bergerak di angka 4.800 hingga 5.000 dollar AS (USD). Untuk menjadi negara maju, angka tersebut idealnya mencapai USD13.000yang harusnya dicapai pada tahun lalu.

"Prabowo sadar tidak mungkin pakai cara kuno untuk mencapai angka itu. Dia mengubah kebijakan, dengan membuat kebijakan memajukan kalangan bawah. Dengan MBG (Makan Bergizi Gratis), Koperasi Merah Putih. Itu betul-betul perubahan setelah 10 tahun terakhir kemajuan ekonomi stagnan," jelas Dahlan.

Namun, yang jadi persoalan, perubahan itu belum tentu membuahkan hasil berupa kemajuan. Bisa juga perubahan itu menghasilkan kegagalan. Itu yang membuat dirinya deg-degan.

Namun demikian, Dahlan yakin Indonesia pasti akan maju. Itu karena rakyatnya ingin maju. Dia mencontohkan emak-emak yang sangat bersemangat membeli kebutuhan. Dia lalu menunjuk salah satu audiens ibu-ibu berjilbab dan menebak bahwa ibu tersebut paling tidak memiliki 50 jilbab. Ternyata sang Ibu itu membenarkan, bahkan mengaku punya lebih dari 50 jilbab.

Dahlan kemudian menjelaskan contoh lainnya. Yakni banyak orang-orang menengah ke bawah sekarang pintar-pintar dan bersemangat ingin maju secara ekonomi. Mereka tidak punya sepeda motor, kemudian mencicil motor. Pertimbangannya, jatuhnya lebih murah daripada naik angkot 2-3 kali.

Naik angkot tiap hari tidak cukup sekali jalan. Bisa 2-3 kali pindah angkot. Mereka berhitung, dalam sebulan biaya naik angkot bisa untuk mencicil sepeda motor. Akhirnya mereka beli sepeda motor dengan cara mencicil.

"Setelah beli 1 motor, beli lagi untuk istrinya. Setelah punya 2 motor, beli lagi untuk anaknya. Nah, orang-orang yang seperti ini jumlahnya sangat banyak di Indonesia. Belum ada penelitian, tapi menurut saya ada kalau 120 juta orang. Nah, orang-orang seperti inilah indikator kemajuan yang nyata dari bawah. Karena itu, saya bilang siapa pun presidennya, Indonesia akan bisa maju," tuturnya.

Baca juga:  Tamu Istimewa

Terjebak Algoritma dan Hoax

Pada akhir sesinya, Dahlan menjawab pertanyaan audiens terkait algoritma. Dia mengingatkan bahwa algoritma media sosial yang bisa mengurung pemikiran seseorang. Ia mencontohkan bagaimana fokus manusia saat ini mudah teralihkan oleh ponsel, bahkan dalam acara sakral sekalipun.

"Dunia digital membuat kita susah lepas dari HP. Berita perang banyak hoaksnya karena algoritma hanya menyodorkan apa yang ingin kita lihat," ujarnya.

Dahlan juga menegaskan, Indonesia butuh pemimpin yang berani bertindak tegas untuk mengubah kebijakan parpol dan UU parpol agar perubahan besar bisa terjadi.

Melalui diskusi ini, Institut Asia Malang kembali menegaskan perannya sebagai wadah yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi juga menjadi pemain yang kritis dan adaptif.

Sebagaimana pesan penutup dalam acara tersebut, ilmu pengetahuan mungkin datang dari masa lalu, namun masa depan hanya milik mereka yang berani membaca zaman dengan kacamata yang merdeka dan penuh tanya.

Kerja Sama Institut Asia dan Disway Malang


Direktur Disway Malang Agung Pamujo dan Rektor Institut Asia Malang Risa Santoso menandatangani naskah kerja sama disaksikan founder Disway Dahlan Iskan. -m.khakim/diswaymalang.id --

Pada kesempatan tersebut, sebelum inti acara, juga digelar penandatanganan kerja sama antara Institut Asia dan Disway Malang dengan disaksikan founder Disway Dahlan Iskan. Naskah kerja sama diteken Direktur Disway Malang Agung Pamujo dan Rektor Institut Asia Risa Santoso.

Kerja sama dengan Institut Asia adalah kerja sama kali kesekian yang dilakukan Disway Malang dengan kalangan kampus. Disway Malang juga telah dan sedang menjalin kerja sama dengan sejumlah fakultas dan unit usaha Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Malang (Unisma), Politeknik Negeri Malang (Polinema), serta kampus-kampus lainnya.

 

Sumber.

Campus Address
Jl. Soekarno Hatta, Rembuksari No. 1 A, Mojolangu, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65113
Kontak
Phone: (62 341) 478-877 (Hunting)
Fax: (62 341) 434-5225
Email: asia@asia.ac.id
Don’t Miss Out!
Get the latest information from the Asia Institute
Subscription Form
Ikuti Kami
© Copyright 2025, Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang.
All rights reserved.
chevron-down linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram