Program BEASISWA, GOLDEN TICKET, dan Promo Terbaru, get the information now!

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Hari Perempuan Internasional bukan sekadar seremoni tahunan bagi Risa Santoso, B.A., M.Ed. Bagi Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) ASIA Malang ini, setiap tanggal 8 Maret adalah pengingat reflektif tentang sebuah perjuangan yang belum usai : memastikan setiap perempuan Indonesia memiliki kunci untuk membuka pintu masa depannya sendiri melalui pendidikan.
Sebagai rektor termuda di Indonesia yang menakhodai perguruan tinggi sejak usia 27 tahun, Risa membawa perspektif segar namun membumi. Ia melihat bahwa hambatan terbesar perempuan sering kali bukan pada kemampuan, melainkan pada stigma dan ketiadaan support system yang memadai.
Risa bercerita tentang kegelisahan seorang mahasiswi Teknik Informatika di kampusnya. Mahasiswi tersebut memiliki mimpi besar untuk berkarier di luar kota setelah lulus, namun terbentur tuntutan keluarga untuk segera menikah dan menetap di rumah.
”Kita perlu terus menyuarakan kebebasan pilihan ini agar kesetaraan bukan cuma jadi wacana,” tegas lulusan Harvard Graduate School of Education tersebut.
Bagi Risa, pendidikan adalah katalisator utama untuk mengubah pola pikir kolektif masyarakat. Belajar dari pengalamannya di Harvard dan UC Berkeley, perubahan budaya yang masif selalu dimulai dari dorongan intelektual yang konsisten hingga menjadi sebuah kenormalan baru.
Di bawah kepemimpinannya sejak 2019, ITB ASIA Malang bukan sekadar tempat belajar, melainkan laboratorium empati. Risa menerapkan sistem meritokratis di mana kompetensi menjadi panglima, tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan. Salah satu kebijakan yang paling terasa dampaknya adalah fleksibilitas bagi dosen dan staf yang telah berkeluarga.
”Kami memperbolehkan dosen membawa anak ke kantor, selama tidak mengganggu output pekerjaan,” ungkapnya. Langkah ini adalah jawaban nyata atas tantangan support system yang sering menjadi batu sandungan bagi perempuan karier.
Tak hanya itu, program kuliah hybrid (S1 & S2) juga disediakan untuk memberi ruang bagi perempuan yang memiliki keterbatasan waktu agar tetap bisa meraih gelar pendidikan tinggi.
Visi Risa juga meluas ke ranah ekonomi kerakyatan. Melalui Inkubator Bisnis ITB ASIA yang berkolaborasi dengan PNM dalam program Mekaarpreneur Naik Kelas, ia aktif melatih pelaku usaha perempuan. Rencananya, program ini akan hadir di 7 titik strategis di Indonesia pada tahun 2026, dimulai dari Jawa Timur sebagai langkah awal pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi.
Penerima penghargaan global JCI Ten Outstanding Young Persons (TOYP) World 2024 ini memimpikan sebuah hari di mana melihat perempuan memimpin perusahaan besar atau menjadi ahli teknis bukan lagi dianggap sebagai sesuatu yang “luar biasa”.
Ia mengambil inspirasi dari sosok Sabrina Pasterski, fisikawan lulusan MIT yang membangun pesawatnya sendiri di usia belia. “Sabrina membuktikan bahwa berdaya itu berarti berani mengambil kendali penuh atas pilihan hidup dan menjaga integritas karya di atas materi,” tuturnya kagum.
Bagi generasi muda perempuan Indonesia, pesan Risa sangat lugas: Berhentilah membatasi diri karena suara bising di luar sana. “Jangan pernah membatasi diri karena pendapat orang lain. Fokus saja pada pengembangan diri dan asah keterampilan. Dunia sekarang sangat terbuka bagi mereka yang berani mengambil kesempatan dan membuktikannya lewat karya nyata,” tutupnya penuh semangat. (imm/lim)